Nama : deni yan kusyana
C54100055
Laskar 22
Secerah Mentari Bertekad Besi

Orang tua merupakan aspek penting dalam kehidupan seseorang,karena dari sanalah kita berasal dan di besarkan dengan balutan kasih sayang,termasuk saya namun tak ayal banyak sebagian anak yang tak mendapatkan hak semestinya dari orang tua dan kita patut bersyukur karena kita bisa menikmati hal tersebut,sebagian besar dari mereka entah itu financial, kasih sayang bahkan kedua duannya tidak terpenuhi yang membuat mereka tidak merasakan akan orang tua sesungguhnya termasuk salah satunya ibu saya,sungguh sangat berat cobaan yang ibu saya alami,sungguh bagaikan langit apa yang dia terima dulu dan apa yang dia berikan kepada anak anaknya saat ini dan itulah yang membuat saya mengangkat ibu tesayang sebagai kisah inspirasi sesungguhnya yang rasa sayangnya akan terbawa sampai surga.
Kisah pelik ini berawal dari perceraian kedua orang tuanya ketika beliau masih kanak kanak,sehingga kehidupan keluarga yang awalnya manis kini bak neraka yang siap membakar penghuni tersebut, tak ayal yang menjadi korban pastilah anak, dan bagi yang sudah mengerti inilah situasi paling sulit,dan itulah yang di alami oleh kaka kakak belaiu dan akhirnya saudaranya membuat pilihan yang sulit yaitu langsung memilih untuk meninggalkan rumah karena kedua orang tuanya kini masing masing sudah memiliki pasangan hidup yag baru yang kini tak peduli lagi terhadap mereka, kakak sulungnya memilih untuk tinggal bersama bibinya sedangkan kakak keduanya memilih untuk tinggal dengan neneknya dan karena ibuku ketika itu masih kecil serta anak terakhir, maka dia memilih untuk tinggal bersama ibunya yang notabene sudah menikah dengan orang lain yang kebetulan dia juga memiliki anak ( saudara tiri,red) dan otomatis menjadi keluarga baru dengan saudara saudara tirinya, di belahan dunia manapun mungkin selalu sama yang namanya saudara tiri identik dengan kekejaman dan kejailannya, dan itu yang di alami oleh ibuku, ketika beliau sudah tiggal dengan ibunya kerap kali saudara saudara tirinya menggangu serta mengancam beliau bahakn mengancam untuk membunuhnya. sungguh ironis memang namun inilah kenyataan walaupun terkadang pahit, dan itu sudah hal biasa bagi ibu dengan ancaman dari saudara saudara tirinya karena walaupun beliau mengadu itu percuma serta sia sia karena ibunya teramat takut kepada suaminya yang lebih memihak anaknya,dan tak sampai di situ, untuk urusan pendidikan pun sama ketika beliauu sudah masuk ke jenjang sekolah dasar tak ada yang namanya perhatian dan yang parahnya perhatian dari segi financial ( pembiayaan ) yang otomatis ibuku dengan usahanya sendiri mencari uang untuk mmebiayai sekolahnya sendiri, setiap waktu, setiap jam, setipa detik beliau pergi ke hutan untuk mengumpulkan melinjo yang jatuh dari pohon untuk di jual ke pasar pada hari minggu, ya! karena itu yang beliau bias lakukan dengan usianya yang masih teramat kecil, kehidupan seperti ini terus berlanju sampai beliau akhirnya lulus sekolah dasar. Dan inilah klimaks dari perjalanan pendidikannya, bagaimana tidak ketika beliau ingin sekali melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama orang tuanya tetap tidak bertanggung jawab terhadap beliau, malah orang tuanya berpendapat bahwa wanita itu tidak perlu sekolah karena pada akhirnya nanti akan ke dapur juga, namun hal ini tak sejalan dengan beliau,terdapat sebuah keinginan besar untuk melanjutkan sekolah akhirnya belaiau pun dengan modal nekat mendaftar ke salah satu sekolah ternama di kotaku namun usahanya gagal karena modal nekat saja tidak cukup pada saat itu, sejak saat itulah beliau berazzam bahwa jika nanti dia memiliki anak dia akan memperjuangkan pendidikan anaknya untuk meraih pendidikan yang setinggi setinginya walaupun dia haru menjadi babu sekalipun, inilah janji beliau terhadap dirinya sehngga saat ini, dan janji ini pun tak sia sia karena berkat ketekunan tekad dan usaha beliau akhirnya kakakku bisa menyelesaikan pendidikan sarjananya dan saat ini aku sedang bertempur untuk mwujudkdna mimpi beliau dan mimipi mimpiku, beliau lah ibuku tersayang yang sosoknya selalu menaungi diriku, mencerahkan pikiranku di saat gelap, segelap-gelapnya, menghangati pikiranku ketika semua ide terasa buntu,yang selalu nenunjukan jalan yang terbaik di banyaknya jalan hidup yang curam, itulah dia ibuku tersayang iginku membalas semua yang telah dia berikan sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya menjadi penyesalan dalam diriku. Dia, dialah sosok yang menjadi inspirasiku sepanjang masa, yang memiliki hati secarah mentari walaupun di tengah cobaan yang begitu keras.
Kisah inspirasi ini ku tujukan untuk ibuku tersayang ibu tercantik dan ibu terbaik di dunia ini,ini anakmu ibu, anakmu yang dulu kau timang timang dan kau belai sayang dan kini anakmu sudah besar! Doakan ibu, doakan hamba, hamba berjuang meraih apa yang ibu impikan!

DENI YAN KUSYANA
C54100055
LASKAR 22

Si hitam dengan mimpi besar
Siapa sangka anak yang dahulu manjadi bahan ledekan teman temannya sekarang telah tumbuh melebihi yang lainnya dan menjadi tumpuan mimpi setiap insan di desanya,di tengah bergugurnya rekan rekan dan sahabatnya dia muncul menjadi seorang yang di banggakan di daerahnya karena dia masih mampu melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi apalagi ke perguruan tinggi negeri sekelas IPB yang di kenal sebagai kampus rakyat.
Si hitam,itulah julukan ku dulu ketika kanak kanak yang hidup di sebuah kampung dan sampai saat ini pun masih ada saja yan ingat dengan nama kecilku,bukanlah suatu ledekan terhadapku,mungkin hal ini berindikasi terhadap perawakanku dulu ketika kecil ynag memang memiliki kulit yang hitam dan sampai saat ini pun tetap sama demikian yang berdampak terhadap pangilanku,melihat asal usulku di besarkan, aku di besarkan di sebuah kampung yang secara geografis terpencil ( masyarakat sana menyebutnya wong gunung ) karena letaknya yang berada di ujung wilayah kecamatan dan ujung kabupaten yang di apit oleh dua wilayah sehingga kehidupan kami tak ubah layaknya hidup di perbatasan suatu negara, yang tak jelas regulasinya, tak jelas campur tangan pemerintah, dan tak jelas pula nasib kami, kami tak pernah tahu akan program pemerintah, kami selalu tertingal akan info-info tentang pemerintah,hal ini yang memebuat kondisi masyarakat di sana pada umumnya sedikit yang pernah mengecam bangku sekolah dan notabene kedua orang tuaku pun hanya tamatan sekolah dasar ( ibu ) dan sekolah menengah pertama ( ayah ), benar ku memang di besarkan di tengah tengah lingkungan yang minim pendidikan yang rata rata anak anak usia ku saat ini mereka sedang sibuk mencari nafkah untuk orang tuanya, untuk anak istrinya karena ketika mereaka lulus SD maupun SMP mereka lebih memilih kerja ataupun menikah karena begitulah doktrin para orang tua di sana lebih baik bekerja daripada sekolah, tapi karena hal inilah yang menyebabkan diriku memberanikan untuk bermimpi untuk mengubah pola pikir mereka serta membuktikan kepada semuanya bahwa akupun yang tak jauh keadaannya, keadaan finansialnya serta kulturnya bisa menjadi seseorang yang berhasil kelak dan sampai saat ini mimpi untuk sekolah setinggi tingginya kian kuat tertanam dalam diriku karena ku sadar saat ini ku telah menjadi seorang mahasiswa yang harus menjadi motor penggerak yang akan berakselerasi di tengah masyarakat yang ku cintai ini.
Kehidupan masa kecilku yang begitu kelam, berada di tengah keluaraga yang dalam segi finansial yang kekurangan tak membuatku patah semangat menjalani hidup hari-hari terus ku lalui layaknya anak pada umumnya walaupun sebenarnya begitu berat beban yang di pikul keluargaku,setiap subuh dan sore hari aku dan kakaku harus pergi turun ke gunung untuk mandi serta membawa air untuk minum dan kegiatran yang membutuhkan air,setipa malam harus menunggu ibu datang karena beliau menjadi kuli panggul barang barang yang baru turun dari kapal di pelabuhan,serta kerinduan kepada bapak yang bekerja jauh di sana yang tak bisa pulang karean biaya untuk ongkos di kirimkan kepada kami,serta kenangan menjual buah buahan ketika aku SD sampai menjual mainan telah ku lakukan ini semata untuk membantu kedua orang tuaku yang dengan keras menghidupi anaknya tercinta dan tak sampai hati akupun turut membantu mereka,lambat laun kehidupan yang keras itu pun sedikit demi sedikit sirna karena ibuku mulai mendirikan kios warung kecil dari hasil dia menjadi kuli di pelabuhan dan ngemping ( membuat emping dari melinjo ) yang kemudian di jual ke pasar, walaupun tak seberapa hasilnya. hari hari terus ku jalani dengan tekad yang mantap karena sejak kecil ku sudah bertekad akan bersekolah setinggi tingginya tak peduli keadan ku seperti apapun,setamat SD ku melanjutkan di SMP yang tak jauh dari rumah walaupun teman teman SD ku banyak yang putus sekolah bahkan tak jarang yang langsung menikah dan tetap ku jalani hari dengan mantap, ku buktikan kesungguhan ku kepada orang tuaku dengan prestasi prestasi di sekolah semenjak SD aku berusaha untuk itu dan ternyata membuahkan hasil,alhamdullilah dari Sd akau selau menjadi yang terbaik dan sama halnya ketika di SMP bahkan ditambah dengan berbagai prestasi yang lain tak lain ini usahaku untuk mendapatkan dukungan dari orang tuaku bahwa aku mampu dan bisa untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi dan ternyata usahaku tak sia-sia , selepas SMP aku masih tetap di beri kepercayan oleh kedua orang tuaku untuk mengecam pendidikan SMA ke kota,dan hal ini yang menjadi kesempatan ku untuk membuktikan lebih jauh bahwa anakmu ini mampu wahai ibu dan bapak tersayang dan walhasil ku tak menyianyaikan nya impianku berhasil untuk membanggakan mereka ketika ku menjadi ketua OSIS di sekolahku yang pertama kali nya ada dari daerahku yang menjadi ketua osis di sekolahku itu yang letaknya jauh dari rumahku, dan yang terakhir adalah ketika aku menjadi salah satu lulusan terbaik di sekolahku, inlah momen yang ku tunggu yaitu senyum bangga dari kedua orang tuaku ketika menghadiri acara tersebut,sampai saat ini senyum itu masih tersimpan dalam hatiku dan ingin rasanya ku ingin melihat senyum itu lagi di tempat yang berbeda, yaitu di sini di IPB tercinta, ya sejak saat itu aku berjanji bahwa tak ada yang dapat ku berikan kepada kedua orang tuaku,seberapa banyak harta yang ku miliki tak akan bisa mengantikan kasih sayang yang di berikan oleh meraka berdua dan aku menemukan kuncinya yaitu menjadi anak yang berbakti dan membanggakan sudah cukup bagi mereka ikhlas terhadap apa yang di berikan kepadaku, hanya dengan menjadi kebangganan aku bisa menebus semua sayang mereka ,akan ku lakukan itu.
Sekarang aku melihat senyum itu, senyum bahagia, senyum kebanggan ketika aku sekarang berada untuk menuntut ilmu di IPB ini, hal yang sangat membahagiakan bagi diriku,teringat kan masa masa sulit dulu teringat akan sahabat sahabatku teringat akan semua yang pernah ada dalam hidupku ,investasi pengalamanku akan menjadi pisang yang tajam yang siap mengoyak ngoyak prestasi di IPB tercinta ini dan akan kau buktikan serta mencari bukti akan janji Allah bahwa hamba yang memiliki ilmu akan di angkat beberapa derajat, serta ku akumulasikan semua mimpi mimpi kalian wahai teman teman, wahai sahabat sahabatku, tungu si hitam ini untuk terus melanjutkan mimpinya dan pada saatnya akan membawa mimpi mimpi itu kehadapan kalian semua, bukan saja kalian tapi negeri ini, doakan lah si hitam ibu dan bapak ku tersayang, yakinlah anakmu akan mampu menebus imajainasinya,dan salam cinta kepada semua sahabat ku dan keluaragaku.

IPB Badge

GOTHENBURGH, KOMPAS.com- Tim Indonesia yang diwakili Jakarta Football Academy kembali menghadapi tim asal Swedia dalam turnamen Gothia Cup. Tim asal Swedia kali ini bernama Guldhedens dari kelompok umur kurang dari 12 tahun. Read the rest of this entry »

GOTHENBURGH, KOMPAS.com- Tim Indonesia yang diwakili Jakarta Football Academy kembali menghadapi tim asal Swedia dalam turnamen Gothia Cup. Tim asal Swedia kali ini bernama Guldhedens dari kelompok umur kurang dari 12 tahun. Read the rest of this entry »

Search